Wednesday, September 26, 2012

Suasana Jogja

bismillah ...

Salah satu potret suasana Jogja

Keadaan seperti di atas sudah sangat jarang saya temukan di kota. Di jalan, terjadi sinkronisasi dan sinergisasi antara pengendara sepeda, sepeda motor, mobil, andong, dan becak, bahkan pejalan kaki. Ya, keadaan tersebut sudah sangat jarang saya temui di kota, tepatnya Jakarta dan sekitarnya.

Ambil mudahnya, sekarang pejalan kaki, pengendara sepeda, dan becak, di kota seperti mendapat kasta terendah di dunia keras bernama jalan. Saya salah satu penikmat motor, karena spesifikasi saya cocok dengan motor. Tapi, ada saat ketika saya memilih untuk berjalan kaki, dan keadaannya berbeda mendekati 180 derajat.

Saya memang sangat condong untuk menggunakan motor sebagai media transportasi, tapi saya menghargai benar orang lain yang memilih untuk tidak menggunakan motor seperti saya, dengan kata lain, orang lain yang lebih memilih berjalan kaki, atau mengendarai sepeda, atau yang lainnya. Aplikasi nyatanya adalah saya lebih memilih jalan yang lowong tapi berputar arah, dibanding memaksa lewat jalan pintas yang sempit dan dipenuhi oleh pejalan kaki yang berlalu-lalang. Satu sisi saya tidak bisa mengefektifkan tujuan saya memilih motor yaitu untuk mengefisiensikan waktu, sisi lain saya membahayakan pejalan kaki jika bersikeras untuk mengebut di jalan yang sesak.

Dan, menjadi pejalan kaki yang tangguh, seperti menjadi pemilik sembilan nyawa. Menjadi penduduk tidak tetap di suatu wilayah dengan infrstruktur yang tidak mendukung, dalam konteks ini adalah jalan sempit, membuat masyarakatnya terpaksa harus berhadapan dengan keadaan seperti yang sudah saya sebutkan sebelumnya. Yaitu, di suatu jalan, motor, mobil, dan pejalan kaki sama-sama ingin menggunakan jalan, dan pejalan kaki harus menjadi pihak yang paling tidak bisa tidak mengalah.

Pejalan kaki seolah dituntut menjadi pihak yang harus minggir dan memberi jalan ketika sepeda motor, mobil, atau kendaraan bermotor yang lain lewat. Terkadang, bahkan tidak jarang, psikologis mereka ditekan dengan suara klakson. Akhirnya keadaan seperti ini juga tidak jarang menghasilkan pejalan kaki yang acuh-tak-acuh ketika mendengar klakson yang bertujuan bukan untuk minta diberi jalan.

Entahlah, keadaan seperti ini tidak baik untuk terus terpelihara. Pejalan kaki dan pengendara sepeda berhak memiliki fasilitas yang aman untuk menikmati jalan. Toh, mereka yang mereduksi mudharat dari kendaraan bermotor. Saya sangat tidak tertarik pada sesuatu yang berhubungan dengan pemerintahan, atau politik, tapi sejujurnya saya mengerti benar pemerintah harus menata infrastruktur, terutama jalan dan trotoar, dengan baik dan benar. Terutama di kawasan pinggiran yang nasibnya tidak terjamah oleh pemerintah pusat.

Suasana Jogja berhasil memberikan saya harapan kalau sinkronitas dan sinergitas dari pengguna jalan itu ada. Dimana tidak ada kasta, dimana hanya ada hak-hak yang berada pada tempatnya.

Ayo, mulai dari diri sendiri :) 
Menghargai, kuncinya.

Tuesday, September 25, 2012

Almost Sunset

bismillah ...

Matahari mungkin belum sepenuhnya tenggelam. Bahkan, masih tergantung tinggi di angkasa. Senja kala itu mungkin tidak berjodoh denganku atau mereka. Tapi ini momen kami. Momen ketika siluetku dan siluet mereka terekam. Momen ketika hari hanya dipenuhi dengan tawa, cerita, dan jepretan kamera.

Aku mungkin tidak mampu merangkai kata-kata ini menjadi indah. Tapi, kepuasan ini akan berlanjut menjadi perjalanan-perjalanan indah selanjutnya, aamin. Ya, sepenggal kisah yang tak seberapa ini, hanyalah sebuah awal dari perjalanan yang sebenarnya.

:)




23 Agustus 2012, tiga remaja wanita, dan Jakarta.



credit photos : @dwimustika

Sunday, September 23, 2012

Tidung (Part 3)

bismillah ...




Haaah... Ini bakal menjadi insyaAllah penutup cerita Tidung Agustus lalu. Waktu itu 31 Agustus, hari terakhir  gue dan temen-temen nikmatin liburan dan kepuasaan mata yang udah bosan sama hiruk pikuk kota. Memuaskan mata dengan bukti-bukti nyata kuasa Allah, yang gue jarang lihat sacara langsung. Ya, harus berakhir dulu waktu itu.

Tapi, gue Devi Tiara Tiya Ichul Elok mutusin buat menyempatkan diri ke tempat yang belom-kesana-belom-keTidung, tidak lain tidak bukan, Jembatan Cinta. Hehe. Lucu loh filosofinya. Jembatan ini menghubungkan dua pulau, pulau Tidung Besar dan pulau Tidung Kecil. Ternyata, gue ngerasa banget perjuangan buat nyebrangin jembatan ini. Dan rasa puasnya pas udah sampe ke pulau Tidung Kecil-nya. Subhanallah deh, panas-panasan dan lari-larian :D

Ternyata, keadaan dua pulau ini beda drastis. Di pulau Tidung Kecil ini ngga berpenghuni. Sepi parah. Beda banget dengan pulau Tidung Besar yang emang didiami penduduk, dan dimanfaatkan sebagai lokasi wisata.



Nah, di Tidung Kecil ini gue nyari oleh-oleh dadakan yang diminta sama temen. Terumbu karang T dan r :)

Karena udah masuk waktu Jumatan akhirnya kita buru-buru balik. Pas udah nyebrang lagi, gue denger percakapan orang yang juga wisatawan pas itu sama temennya.

"Eh lu tau ga, mitosnya kalo ada pasangan yang nyebrangin jembatan itu, mereka bakal awet selamanya." Abis itu ga denger lagis soalnya gue udah jalan jauh.

Langsung deh gue ngomong ke Devi.
M: "Dev, denger ga barusan?"
D: "Apa?"
M: "Katanya kalo ada pasangan yang nyebrang jembatan, mereka bakal awet selamanya."
D: "Hm, Ah! Berarti persahabatan kita bakal awet selamanya, hahahaha."
M: "Aamiin."
Yah, who knows. :)

Pulangnya gue pisah sama rombongan di Stasiun Kota, mereka lanjut ke Bogor dan Tiara juga pulang naik Busway, gue naik CL ke Serpong. 

Yah, perjalanan ini udah masuk ke dalam memori gue. Menjadi cerita. Dan akan menjadi bagian dari sejarah yang membangun gue bersama mereka. Kisah tentang perjalanan menikmati kuasa Allah, tentang persahabatan yang ngga ada habisnya, dan tentang hidup di tempat yang asing buat kita. 

Subhanallah Warlhamdulillah :) See you next trip(s)!

Friday, September 21, 2012

Can't wait for this

bismillah ...

SOON (mmm, actually not too soon :p), the most TINagers TIN47 wanted event!


Industrial Visit and Tour Jawa - Bali, aamin.
 featuring Mr. TINgineer :3

ide dan ilustrasi: @giovannDA
finishing, warna dan convert into grafis : @mayaaarrr

Tuesday, September 18, 2012

Hai kamu yang lelah ...

bismillah ...

Hai kamu yang lelah. Tetap semangat ya. Aku mungkin tidak tahu karena tidak merasakan, tapi semoga kelelahan yang kamu rasakan itu menjelma menjadi berkah di kemudian hari, yaa minimal jadi senyuman atau tawa. Bagaimanapun, tetap semangat ya. Aku tahu satu hal. Kita, keren. :D

Akhir-akhir ini aku lagi diberi segudang nikmat dari Allah. Yaa mungkin sebelum-sebelumnya juga banyak. Mungkin seiring dengan aku lebih sering bersyukur aku lebih bisa melihat nikmat-nikmat itu. Aku harap, kamu juga bisa merasakan ini. Rasanya diberi nikmat bertubi-tubi. Rasa lelah sepertinya tidak kentara lagi.

Karena itu, setiap lelah yang kamu rasa, setiap peluh yang menetes, dan setiap nafas yang mulai tersengal. Tetap semangat ya. Mungkin selama kamu merasa lelah itu semakin berat, Allah juga sedang menambahkan ridho dan nikmatnya kepada kamu.

Aku sedang menambah amunisi untuk belajar ikhlas, lho. Kamu juga ya.


:: Pesan spesial untuk setiap orang yang sedang lelah, karena berjuang demi masa depan yang lebih baik ::

:)

Thursday, September 13, 2012

FALCON 2012

Get your weapon ready! :D


ps. this poster made by me, hihi :3 And I made kind of this (different compotition) with 5 x 3 meters, since yesterday it was in Segitiga Sapta, FATETA. Go see it! :) It's really a big banner, rite? Proud. My first banner, actually.

Monday, September 10, 2012

Terumbu Karang


Temen: "May, ini apa?"
Maya: "Ini ... terumbu karang."

Terumbu karang yang udah ngga bersimbiosis sama alga, yang mungkin udah kebelah-belah, dan terapung kebawa arus ombak ke pinggir pantai, mati.

#postpenting

Wednesday, September 5, 2012

...

bismillah ...

"Lelah ini candu. Lelah ini menjadi sesuatu yang mengasikkan. Aku hampir lupa rasanya bersantai dan tidur panjang. Seperti liburan hanya sebuah mimpi singkat. Tapi, lelah ini proses. Lelah ini aku lakukan untuk perubahan. Lelah ini semoga tidak akan pernah menjadi sia-sia."

Lagi capek-capeknya masih aja sempet nge-post. But that's me. Badan lagi ngga compatible sebenernya buat capek-capekan. Yeah, but that's me.

Sebenernya juga banyak post yang pengen gue buat. Dan, banyak hal yang pengen gue lakukan hari ini tapi ngga kesampean. Rencana yang keadaannya menjadi di luar dugaan itu sebuah tanda lain untuk prepare lebih, next time. Yah, seperti yang gue bilang lalu-lalu, kejar-kejaran sama waktu itu capek.

Oya, hari ini SG. Pembicaranya berpendapat untuk menomor-satukan profit, baru sosial. He said dimensi sosial itu banyak dan luas, but still I disagree. Someday, gue akan menomor-satukan profit dan menomor-satukan juga sebuah dimensi sosial yang gue pilih dengan sebutan, sedekah. Mereka akan selalu berjalan beriringan. Yang selanjutnya akan berkembang menjadi dimensi-dimensi sosial lain, seperti memberdayakan masyarakat. Dan dimensi-dimensi profit lain. Terhadap perusahaan masa depan gue, amin.

Baru kali ini juga gue ketemu pembicara yang mind set loyalitas nya sama perusahaan itu kuat banget. Tapi tetep, he's a techno-preneur. Bu Endang bilang, seorang 'preneur' ngga cuma seorang owner. Tapi seseorang yang bisa bertahan dan berkembang dengan terus melahirkan invensi-invensi baru, di dalam perusahaan orang lain sekalipun.

Dan. Ngga pengen lupa aja buat ngingetin; jangan lupa bersyukur. Selamat malam.

"Dan nikmat Tuhan-mu yang manakah yang engkau dustakan."

Tuesday, September 4, 2012

HAGATRI 2012



Are you ready to rock?

Tidung (Part 2)

bismillah ...


Satu jam perjalanan, gue udah bisa liat laut lepas. Laut yang sebenarnya ngga lebih luas dari laut yang sebenarnya. Laut yang gue jelajahi saat itu cuma laut yang letaknya di antara pulau-pulau milik Kepulauan Seribu. But still, it's part of the ocean. Warna laut ternyata punya gradasi, lho. Awal-awal berangkat air laut warnanya masih biru tua, kecuali pas masih di pelabuhan warnanya hijau dan kotor :( lama-lama warnanya jadi hijau cincau gitu, gue ngerasa lagi berlayar di atas ton-ton cincau, kata egi "Rasanya kalo kita jatoh kita bisa membel, yah May." Tapi lama-lama warnanya balik biru tua. 

Pun dengan arus ombaknya, dari landai ke kenceng, terus balik sedeng. Sempet mabok laut tapi sembuh dengan tidur, haha. Oya, di satu jam perjalanan, ngga nyampe lah, kita ngelewatin pulau Bidadari. Terus setengah jam kemudian berhenti nurunin penumpang yang mau ke pulau Pari.


Sampe di pulau Tidung kita disambut sama Mas Dino dan Pak Asep. Mas Dino ini yang jadi EO kita, DinoTravel. Nah, Pak Asep ini jadi tour guide kita selama di Tidung. Jalan, jalan, jalan sampe deh di homestay-nya. Nyaman dan bagus banget, sayang ngga sempet foto. Di teras rumah udah ada welcome drink, langsung diserbuuu. 

Agenda kita waktu itu adalah makan! Hahaha secara energi kekuras karena semalem nginep di kapal dan mabok laut. Abis itu kita sepeda-an ke pantai yang deket dengan kecamatan. Bagus nya Subhanallah banget! Sayang hape gue lowbat jadi ngga bisa foto-foto, tiya sama egi juga belom nge-upload foto-foto dari dslr mereka. Rasanya waktu itu capek gue langsung rontok, capek gue MPF, capek gue OH, dan capek gue kurang tidur. Ah seneng deh pokoknya, langsung main air, hehe.

Abis sholat, langsung deh acara utama dan paling utama, snorkeling! Ini juga serunya Subhanallah banget :D Ngga bisa deh di ungkapin sama kata-kata. Kehidupan bawah laut itu ternyata keren abis, kecuali airnya yang asin dan bikin mata perih :p Sampe jam tiga-an kita udahan lanjut pada main banana boat, gue ngga ikutan karena kedinginan haha lemah. Iya udah kering angin sih tapi kalo nyemplung lagi kan dingin lagi -_-

Tapi ngga nyesel dong, soalnya yang pada naik banana boat gempor semua haha.

Ini bawah laut yang gue ambil dari jembatan :p

Malem abis maghrib kita makan lagi, padahal sorenya abis makan dan ngga kedapetan sunset di pulau Tidung Kecil, haha dasar kelakuan. Abis itu gue tidur dan dibangunin jam 10 karena ada ikan bakar~ Oya gue inget banget rempongnya mau sholat maghrib karena kamar mandi ada 2 dan kita cewe ber-11, haha. Belom si ichul tiba-tiba mecahin gelas di dapur.

Seru lah. Nagih!

"Subhanallah, Allah is truly The Greatest Creator ever!"

ps.
All photos here taken by my phone

Sunday, September 2, 2012

Tidung (Part 1)


bismillah ...





Those are photos when our boat leaved Muara Angke and heading to Tidung Island.

Perjalanan bermula pada sekumpulan TIN plus satu bocah Menejemen yang ngidam liat laut, gue salah satunya. Setelah tiga hari jor-joran sama MPF dan satu hari Open House jurusan, malemnya langsung packing seadanya dan tancap gas ke stasiun kota Bogor menuju stasiun Jakarta Kota, lanjut ngangkot. Jam 11 malem, kita ber-18 udah nyampe di pom bensin Muara Angke, bingung mau nunggu jam 5 pagi sambil ngapain akhirnya kita makan mi cup instan. Bu koordinator trip kita kali ini, Yati, inisiatif nelpon EO dan akhirnya kita dibawa ke kapal yang bakal dipake buat nyebrang pagi nya, dan menginap disitu.

Oya kenalin, yang ikut ada gue, yati, egi, anoy, devi, tiara, tiya, ria, ichul, wenny, elok, nirwan, rohim, yoga, jalal, sony, hijran, dan si anak Mene, wibih.

Karena pada seret energi, akhirnya pada tepar. Sisa gue, tiya, tiara berpujangga di atap kapal, sama lupa siapa aja yang milih buat ngabisin malam sambil main kartu. Pas itu tiya tiara berkonspirasi, biasanya gue cuma jadi pendengar setia mereka berpunjangga. Akhirnya gue ngeluarin satu bait, mungkin pertama dan terakhir. Soalnya gue ga bakat.

"Detik aku melihatmu, detik mata kita bertemu, detik itu juga, aku milikmu." Dan mereka hening. 

Dari atas atap kapal gue ngerasain tidur beratapkan langit, berselimutkan bintang-bintang, dan diterangi cahaya rembulan #tsah. Akhirnya jam setengah dua pagi kita tumbang dan memilih ngisi energi juga.

Shubuhnya, abis sholat, Hijran nunjukkin barisan bintang, kalo ngga salah yang berderet tiga itu namanya Orion. Lupa yang lain. Penumpang lain mulai menuhin kapal pas udah terangan. Matahari udah lumayan tinggi, akhirnya kita berangkat, sekitar jam 7.30. Yak, itu foto-foto detik meninggalkan Muara Angke. Gue bahagia. Iya, belum sampe aja gue udah seneng banget.

Saat itu gue berujar dalem hati, "Laut, soon!"

Things/Things To Do I Want The Most Soon

bismillah ...
Aamin Ya Rabb

Sebenarnya, tempat kita untuk memohon yang sebenar-benarnya dan sepuas-puasnya ya hanya pada Allah SWT, kan? Lantas, kenapa hanya meminta dan memohon yang itu-itu saja dan standar-standar saja? Tapi juga Allah memberikan pilihan sebenar-benarnya dan sepuas-puasnya juga kepada kita, mau hanya meminta saja atau melengkapinya dengan usaha? Jadi, selamat berdoa dan berusaha sebanyak-banyaknya, kawan!

Allah SWT yang telah menciptakan kita, dan menuliskan takdir kita, namun kembali kepada kita yang telah Ia ciptakan, sejauh mana kita berusaha untuk membuat takdir-takdir Allah menjadi yang kita inginkan.

"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubah apa apa pada diri mereka." (QS 13:11)

Selamat menempuh semester baru! Semoga berkah, aamin :D SE MA NGAT!