Monday, May 12, 2025

Miss you, Mom

Bismillah…

Astagfirullah

Astagfirullah

Astagfirullah


Ma. Aku kangen banget hari ini. Kemarin Jumat, aku mampir ke makam Mama bareng Bapak. Seperti biasa, kita bacain Yasin. Tadinya aku udah pengen curhat panjang sama Mama, tapi karena ada Bapak. Aku malah ga ngomong apa-apa dan ga nangis juga, justru di perjalanan naik motor aku udah nangis duluan. Sehabis berdoa dan kasih bunga, Tante Desi dan Om Toyo dateng. Jadinya aku juga ga sempet ngomong ke makam Mama, deh.


Ma. Aku kangen banget hari ini. Kata Tante, kalau kangen aku disuruh istigfar dan berdoa. Kangen, sedekah. Kangen, zikir. Tapi, gapapa ya Ma, kalau kangen banget aku ngobrol di sini.


Ma. Gimana istirahatnya, tenang ga di dalam sana? Semoga Mama udah ga sakit lagi dan bisa tidur yang tenang ya. Semoga kita bisa ketemu lagi di afterlife nanti. Aamin.


Ma. Maafin aku ya. Di hari-hari terakhir Mama, aku ngerasa capek banget. Bapak juga ngerasa capek banget. Maafin aku, karena cuma aku yang nemenin Mama saat itu. Maafin aku, karena ga maksa Bapak ikut nemenin Mama juga hari itu. Karena, pas kita lagi capek kita semua saving energy dengan jaga Mama gantian. Maaf ya, Ma. Saat-saat terakhir Mama bukan dipelukan Bapak seperti keinginan Mama.


Ma. Aku kangen banget hari ini. Tapi semoga besok aku bangun tidur, bisa lanjut lagi jalani hari dan hidupku seperti biasa.


Love you, Ma. My dear, Mommy. Rest in peace, Mom. You’ve been thru a lot and can not sleep well. You can now rest forever, as much as you need. Nanti di surga, makan lagi yang banyak ya Ma. See you.



Monday, April 28, 2025

See you, Mom!

Bismillah…

Ma. Maya kangen. Izinin aku tulis di blog setiap kangen Mama, ya?

Al-Fatihah untuk Mamaku yang paling cantik sedunia.

It was April 19th, 2025. The day I see your last breath in this world. I still remember every second in that Emergency Room. ‘Forgive me, Mom’ ‘Maafin, ya Ma’ is the only words I can say at that time. I’m asking her forgiveness when she’s gone. Forgiveness for effort that maybe not maximal enough to help her during this hard time. Forgiveness that I’m tired when things get harder day by day.


I keep remembering her last words.

One day she saw me cut my hair, “Bagus rambutnya May, kalau potong gitu aja ya.”


When I’m asking for apologize after crying hard at hospital bcs that was my hardest day along 5 months. “Maafin ya Ma, kemarin aku capek banget, aku sayang Mama.”

“Iya. Mama juga sayang Maya. Mama cuma kaget aja.”

After that day, she rejects to sleep with me, just to ensure I have enough rest. I sleep in her room together in one bed, just to ensure I always aware of her. Eventho I couldn’t rest well. 


When I bring her to Ek* hospital ER bcs she had hard time last 3 days of her life, “Makasi ya May, uang Maya habis ya?”


When I help her to clean herself in the morning before went to office. “Makasi ya Maya. Cantik anak Mama.”


Ma. Maya kangen.


Istirahat yang tenang ya Ma di alam kubur, sampai bertemu di Surga nya Allah, insyaAllah.


Love you. See you in another post, Ma.

Wednesday, October 19, 2022

It’s Nearly 2023

 Bismillah…


Looking at my blog stats, there are some people reading this, so Hi! Whats up! Hope you guys in a good state and good health. Amin.


In my last post, I told my target is only to ‘keep my distance’ until end of year 2020. Turned out I can fully keep my distance starting 2021 and still doing it until now. I even try myself hard to try a new relationship with some of men but still nothing succeed haha, I don’t even feel sad for a breakup. Maybe I keep a distance too much that I really be too careful to have a mutual feeling.


And now I think I will try to focus on the present time instead of worrying what will happen in the future. What’s matter the most is do I feel happy and content now, today? Do I feel grateful and loved (by myself and my family)?


I also worked hard until I get promoted as Assistant Manager in July 2022. Due to my projects, I feel this year is moving way fast. But still Alhamdulillah for the opportunity and acknowledgement.


This year is remarkable tho. Get promoted and decided to have a KPR 😂 wish me luck! Can not wait to share with you here how it looks. It’s not big and not near Jakarta but still in an area that is developing. I feel this is an adult thing and I am adulting 🤣


So, this is the end of this post. Gotta get up from bed and start the day! See you! 


Have a good day.



Saturday, June 27, 2020

Is it a silver lining or blessing in disguise?

Bismillah...

Wow the last post was exactly the same month last year, means it’s been a year. I can tell that last year was hard for me, mentally. I thought I already past my 2016 nightmare, but turned out last quarter of 2019 was my truest turning point.

I feel way better in 2020, Alhamdulillah. That’s why I wrote the tittle of this post like that. Of course 2020 is bad and terrifying for me and all of us. We all know that this pandemic is not over yet, while it’s nearly quarter 3 of 2020. We must always pray this pandemic will leave us this year. Despite of whatever our government do to handle this crisis, I will always try to do physical distancing, hand washing, and use mask to fight it. Please, so do you.

So.

The negative sides of this crisis was a lot, but having bad news everyday was slowly triggering me mentally. That I became afraid and insecure of living, and it’s bad. Before getting worse, I decide to stop consuming pandemic news, I didn’t even write the virus here in my blog. I change my way of thinking to compiling positive sides of what really happened in 2020, and focusing in myself.

The silver lining or blessing in disguise of this pandemic for me is ‘keep the distance’ of everything. Maintaining the distance of people makes me know everything less. There are a lot more time for me to understand myself better. It’s not lie that I miss socializing with friends and working face to face with my colleagues (while working from home and applying physical distancing policy). But, it’s not bad at all. I befriend myself, I’m loving myself.

My target for this year is not much. I will try to keep this ‘keep the distance’ in consistent until December.

Alhamdulillah.

Let us get better together. Please always guide us, Ya Allah. Amin. 💕

Monday, June 17, 2019

Start Over

Bismillah...

Sometimes I feel I’m okay. After struggling alone mentally, the past months.
But today I woke up feeling empty. I know, I miss you.
But I promised I won’t disturb you. I promised to myself to give you space, to start over our life in a better way.

If next life exists, I wish we could meet in a better situation.

Saturday, March 16, 2019

Apa ya?

Bismillah...

Gak dipungkiri, setiap gue ngerasa harus ngeluarin isi pikiran yang mulai ga bener ini, ya kesini.

Lagi, lagi-lagi ngerasa dikasih ujian hidup buat naik kelas kehidupan. Karena kemarin2 gagal mulu, gagal lagi, ga naik-naik kelas udah 3 tahun kali. Setiap lewat 1 dikasi lagi nyoh yang lebih menguji kesabaran, sampe gue suka mikir:

Apa ya? Apa ya yang bakal terjadi kalo gue berhasil kali ini? Apa gue udah sama sekali ga bisa gagal lagi? Apa kalo gue gagal naik kelas gue akan terus begini? Apa kali ini gue harus kuat apapun yang terjadi? Apa setelah ini Allah akan hadiahi gue karena naik kelas?

Ya Allah, bantuin ya. Kasi kekuatan ya. Aku tau sebenernya ujian-ujian ini ga akan melampaui kapasitas ku, cuma aku aja yang terlalu malas dan lemah ya? Karena itu bantuin ya, Ya Allah. Mungkin di salah satu doa setelah solatku yg paling merana doanya, Engkau mendengarnya, beginilah jadinya ya? Aku harus naik kelas dulu ya? Ok gapapa :)

Bismillah semoga kali ini bisa.
Amin.

Thursday, November 29, 2018

Things That I Should Be Grateful For

Bismilllah...

Beberapa postingan terakhir ini rasanya isinya pas gue lagi down terus, pas gue lagi depresi, dan ngerasa kalo gak dituang ke wadah bakal menjadi beban buat gue. Jadi untuk diri gue yang akan membaca kembali postingan kali ini atau siapa pun kalian yang juga iseng atau ga sengaja baca, yaudah baca aja haha paansi.

Untuk merasa lebih baik salah satunya bisa dengan cara banyak-banyak bersyukur. Maka kali ini gue akan list "things that I should be grateful for", supaya Maya yang sedang down ini bisa merasa lebih baik. There are a lot of things to be grateful for, May. You can pass this, like you used to.


1. Kamu masih diberi umur yang panjang, masih diberi waktu untuk taubat setiap saat
2. Keluargamu  semua diberi kesehatan, masih diberi waktu untuk bersama lebih lama
3. Kamu masih punya pekerjaan, masih diberi waktu untuk banyak bersedekah, beramal, dan beribadah dengan bekerja
4. Kamu punya tempat tinggal dan selalu dekat dengan keluarga
5. Kamu sendiri, masih punya banyak waktu untuk explore diri sendiri dan menghabiskan banyak waktu sendiri atau dengan teman dan keluarga
6. Kamu punya banyak materi yang kamu beli dengan jerih payahmu sendiri, lebih baik dari dulu saat kamu minta saja tidak tega sama orang tua atau tetap minta walau tau tidak akan dibelikan
7. Mama Bapak yang sayang banget sama kamu, jangan lupain semua perjuangan mereka sehingga kamu bisa ada di posisimu sekarang
8. Kamu punya teman-teman yang baik, walau sedikit, yang penting mereka apa ada nya begitu juga kamu
9. Kamu punya tubuh yang lengkap semua indera dan organ-organ nya, tidak kurang satu apapun, kurang gemuk gapapa yang penting sehat ya
10. Kamu punya kecerdasan dan kreatifitas yang gak semua orang punya, walau kadang males, gapapa yang penting jangan pernah berhenti belajar dan berkarya

Alhamdulillah. Terima kasih Ya Allah atas semua berkah dan rahmat Mu.


Udah 10 poin dulu. I feel much better. I feel so proud of myself that I can write them down and remind me to be grateful.

Semangat Maya yang sedang down,
Maya yang kuat sedang berusaha ambil alih.



Wkwk jadi ngerasa aneh sendiri. Yodah gapapa.

Tuesday, October 9, 2018

Heavy

Bismillah...

Lagi ngerasa kayak menjalani hidup berat banget. Terakhir ngerasa kayak gini awal 2016. Ga nyangka ngerasa lemah begini lagi, bukannya berubah jadi lebih baik malah jadi ngerasa sedih terus kalau lagi sendirian.

Ngerasa kayak pengen udahan aja. Lagian hidup gue bakal begini begini aja. Udah ngejalanin 2 tahun bertahan hidup masih begini aja. Sedih sedih terus. Berusaha sekuat mungkin buat bersyukur, buat ikhlas, buat berusaha jadi lebih baik, susah banget.

Ngerasa lemah banget dan pengen putus asa banget banget.

Ya Allah lemah banget hamba Mu satu ini. Tolong kuatkan Ya Allah. Amin.

Monday, September 10, 2018

Cara Tuhan

Bismillah...

Mungkin Tuhan menciptakan aku dengan karakter yang sangat simple. Emosional. Mudah sekali bahagia, mudah marah, mudah sedih, dan mudah tertawa. Tidak sulit, jika orang mengenalku, untuk membuatku mengeluarkan emosi. Sebuah kelebihan dan sekaligus kekurangan yang Tuhan ciptakan untukku.

Cara Tuhan memang luar biasa. Dengan tanpa diduga-duga, Ia berikan kita bahagia. Pun kita tahu, dengan tanpa diduga-duga, Ia akan berikan kita sedih.

Terimakasih Tuhan. Aku tidak akan mengharap lebih dari ini, kecuali Engkau izinkan. Bahagia sementara ini aku akan ingat selalu.

P.S
Kami hanya teman saja.

Tuesday, June 12, 2018

Ramadhan is (going to be) over.

Bismillah...

Ramadhan kali ini Allah seperti benar-benar menjawab doa gue. Gue minta dibantuin dikuatkan untuk tidak melakukan banyak dosa untuk taubat, Dia kasih jalan gue bener-bener untuk ga ngelakuin itu. Walopun ga banyak ibadah yang bisa gue lakukan tapi gue berusaha banget untuk banyak melakukan kebaikan, supaya Allah tau gue berusaha banget Dia notice usaha gue sekecil apapun itu.

Bulan Ramadhan ini menjadi momen gue untuk 'balikan' sama Allah. Menjadi momen gue bermuhasabah dan momen spiritual tersendiri buat gue. Entah gue yang mungkin uda pasrah banget minta dibantuinnya, atau emang Dia yang baik banget sama gue. Gue udah Alhamdulillah banget.

Pada satu malam sebelum Ramadhan gue nyempetin laporan ke Dia dan disitu gue minta seminta-minta nya. Gue sadar mungkin saat itulah Allah dengerin gue.

Tapi emang semua yang dibilang ustad-ustadzah bener. Kalo kita menjauh Allah bakal jeles, dia akan usaha gimana caranya kita inget dia lagi, sehat jadi sakit, kaya jadi miskin, bisa dia lakuin supaya kita balik ke Dia. Karena memang kadang musibah lebih ampuh bikin manusia inget siapa sesungguhnya yang punya semuanya. Kalo kita mendekat, makin sayang lah Allah sama kita. Cuma kalo kita makin-makin dekat Allah suka kasi ujian-ujian juga buat nguji seberapa besar cinta kita buat Dia. Saat momen itulah pernah gue ga lulus ujian. MasyaAllah emang.

Sudah sepatutnya gue sebagai manusia ngerasa penuh dosa. Ga ada pernah gue ngerasa suci ya emang karena ga ada suci2 nya kayanya hiks.

Ya Allah, terimakasih ya atas kasih sayang Mu kepada aku yang ga ada apa-apa nya di dunia ini. Terimakasih ya atas nikmat Mu yang kadang lupa hamba syukuri. Terimakasih Engkau tidak pernah meninggalkan hamba Mu yang hina ini. Terimakasih atas cara-cara Mu membantu hamba untuk bertaubat. Semoga Engkau menerima taubat ku Ya Allah. Terimakasih Engkau menjadikan Ramadhan ini indah untuk hamba. Ramadhan yang lebih baik dari yang lalu. Semoga Engkau masih beri hamba kesempatan bertemu lagi dengan bulan penuh berkah ini Ya Allah. Aamin.


Tuesday, May 29, 2018

#randomthoughts

Bismillah...

Gue tahu ini bulan Ramadhan. Sudah sepatutnya pada bulan ini seharusnya menjadi bulan yang penuh berkah, bulan yang baik banget untuk berlomba-lomba dalam kebaikan.

Karena momen ini juga gue pengen bulan ini menjadi another checkpoint gue untuk menjadikan gue pribadi yg lebih baik lagi. Tapi ternyata ga semudah yang gue pikirkan, terlebih gue semakin suggest diri gue kalo gue punya penyakit psikologi. Entah insecurity biasa atau semacam anxiety disorder. Walopun gue belum banyak research dan cuma baca-baca artikel aja, ya emang mirip-mirip ke arah sana.

Depresi yang gue lewati beberapa tahun lalu ternyata meninggalkan penyakit psikologi yg belum benar-benar sembuh. Gue cuma ngerasa jadi 'sakit' kalo ada trigger tertentu. Tentu saja gue ga pengen suggest diri gue lebih jauh tentang ini. Tapi faktanya itu yang sedang gue 'nikmati' saat ini.

Pada saat tertentu gue merasa baik-baik aja. Merasa bahagia-bahagia aja dan sehat-sehat aja. Tapi pada saat ketemu 'trigger' ini segala macam bentuk pemikiran buruk langsung menghampiri otak gue dan cuma ada perasaan sedih. Gue bisa mikir yang jelek-jelek aja dan macem-macem sampe gue sedih banget dan nangis. Gue bisa nyalahin diri sendiri (sampe ngerasa pengen mati aja) atas semua itu dan nangis aja pokoknya. Dan capeknya luar biasa batin gue. Yang namanya pikiran dan perasaan yg jelek ya pasti ga ada bagus2 nya. Jadi gue suka capek kenapa kaya gini lagi gini lagi.

Satu hal yang selalu bisa buat gue bertahan adalah cuma karena gue percaya, seberapa besar pun dosa yang pernah gue buat, Allah pasti akan kasih gue kesempatan untuk memaafkan gue. Karena itu gue harus tetep lanjut hidup supaya Allah kasih gue kesempatan itu.

Konsekuensi ini mungkin yg harus gue jalani atas apa yg udah gue perbuat. Mungkin Allah memberi jalan dengan penyakit batin ini sebagai jalan gue untuk menjadi lebih baik. Seberapapun besarnya ujian hidup yg gue rasain gue selalu berpikiran baik sama Allah. Walopun gue sering khilaf walopun gue masi banyak banget kurangnya, gue tetep ga ada apa-apanya tanpa Dia.

Pada akhirnya gue mengerti, setiap gue lupa dan tertutup oleh nikmat dunia, Allah selalu memberi gue tanda untuk gue mengingat kalo ga ada tempat mengadu terbaik selain Dia. Gue ga punya siapa-siapa yg bisa diandelin selain Dia. Gue diberi tanda untuk sadar kalo ini pasti ada baiknya karena ini jalan Dia.

Bismillah Ya Allah mohon selalu beri aku ampunan Mu, beri aku kekuatan, dan teguhkan imanku. Aamin.

Monday, April 30, 2018

Thought

I thought I'm living fine

But this trigger is alive somehow

By seeing it a second I'm shaking

My eyes got warm and blurred

I was disappointed of myself

How can I live this way

And she come back

Asking a shortcut to end this hurt fast

I back off

Asking time to stop

I need more time to heal

Cz I'm not myself this way

And she come back

Asking a shortcut to end this hurt faster

I'd love to say yes

But I can't

Cz how could I leave this way

I'm the one who create those sins

I ain't good enough to go to heaven

I ain't ready

Tuesday, April 24, 2018

Office Problems

Bismillah...

It's me again! Hehe.

Beberapa waktu lalu tepatnya Desember 2017 gue pernah mention tentang pencapaian gue dan point mengenai ini:

  • Di bidang kerjaan Alhamdulillah gue naik gaji dan kerjaan gue baik-baik aja sampai... sampai nanti gue ceritain deh. Yang penting gue tahun ini bisa menghasilkan sesuatu yang bisa gue jadikan legacy di sini

Pada saat itu sebenarnya gue sedang menjalani proses rotasi ke HRD, proses dimana gue mengikuti internal rekrutmen kantor ke posisi berbeda. Nah rencana nya di postingan ini gue ingin cerita tentang itu dari awal bermula dan ending nya gimana.

Sebagai seseorang yang first timer dan loyal (gue belom punya pengalaman kerja lain selain di kantor gue yang sekarang) gue tentu saja bukan tidak punya masalah, masalah sih pasti ada aja dan gak sedikit juga tapi karena beberapa faktor gue jadi belum cari kesempatan di tempat lain.

Sebelum lanjut tiba-tiba kepikiran kalo generasi anak gue enak banget ya kepoin orang tua nya tinggal googling wkwk but that's no prob, they can learn how their Mom's growing and learning things thru her life.

Ok lanjut.

Gue udah agak lupa, tapi saat itu kira2 September-Oktober 2017 gue ada masalah dengan atasan gue. Karena atasan gue dulu rekan kerja se tim gue, jadi gue tetep nganggep kita setara, setara dalam arti komunikasi ya karena kan uda biasa, ga mungkin kan tiba-tiba gue manggil dia Pak cuma karena dia jadi manajer gue. Dulu emang waktu kita setim gue uda tau bahwa dia kandidat kuat jadi leader di tim gue jadi memang mindset nya gue uda hormat lah dengan decision dia saat itu.

Entah kenapa karena ada orang baru dan gue pindah posisi duduk gue mengalami proses adaptasi yang aneh, apalagi atasan gue itu terkesan lebih fokus ke orang baru (yang sebenernya juga temen gue). Nih agak complicated ya karena orang baru ini kira2 ada hubungan khusus lah sama atasan gue. Jadi gue merasa gak nyaman dengan atmosfir kerja kayak gitu. Mungkin kalo saat itu orang baru ini gak ada hubungan apa2 gue pikiran nya ga aneh2 ya, I dunno. Alhasil gue jadi sering diem dan males ngomong sama si atasan gue itu.

Dari gue diem-diem an itu lah konflik nya jadi kemana-mana, gue jadi ga diajak discuss, ga dikasi kerjaan, planga-plongo, ga diajak ngobrol untuk omongin masalah nya apa. Sampai gue merasa lebih baik gue pindah aja daripada lama-lama jadi bego dan gabut karena ga ngapa-ngapain. Bagi sebagian orang mungkin bersyukur ya ga ngapa-ngapain tapi dapet gaji, tapi gue bukan orang yang kaya gitu. Gue haus akan ilmu, gue pengen terus belajar dalam gue bekerja.

Bukan sombong atau gimana, tapi selama gue di tim gue berusaha untuk enhance things, dari mulai enhance laporan (most of them) dan enhance process supaya lebih efisien dan ga bikin capek. Bener-bener dari ngerjain data sampai pulang larut malem nangis-nangis sampe akhirnya jadi bisa pulang tenggo. Dan dari enhance-enhance itu lah gue belajar. Nah apakabar pas gue ga ngapa-ngapain, ga betah lah gue.

Selama konflik itu pun gue jadi makan siang sama temen-temen gue yang lain selain orang tim gue, gue discuss, ngeluh, dan minta saran. Banyak banget yang bilang mending gue pindah aja.

Sebenarnya konflik ini uda berkali-kali dan selalu gue yang ajak atasan gue ngobrol tentang ini dan intinya ya mau ga mau gue harus adaptasi sama kondisi yang sekarang. Dan pas Oktober itu gue juga discuss lagi sama atasan gue dan pada akhirnya gue bilang gue pengen pindah aja karena atasan gue bilang, dia ga nyaman ngasih-ngasih gue kerjaan dengan kondisi gue yang sekarang moody-an. Well, that's a sign rite? Gue ngerasa alasan dia ga make sense, karena moody-an gue itu kan sesuatu yang bisa dibilangin dan kerjaan tetep gue kerjain. But in the end gue pun ikut internal rekrutmen. We are okay but I just don't respect him as much as before, karena menurut gue sebagai atasan dia ga ngasih solusi apa-apa sama sekali.

Proses nya baik-baik aja sampai... sampai atasan nya atasan gue, ya kita sebut saja VP, kaget karena ga dapet info apa-apa dari atasan gue. Dia ngerasa ga diajak discuss dengan masalah gue pindah, denger nya cuma dari gue aja dan waktu itu dia emang gak ijinin, but as long as atasan gue ijinin ya gue lanjut-lanjut aja kan. Kira-kira dia ga setuju ya karena merasa gue kerja nya oke, dia puas sama kerjaan gue (beberapa kerjaan gue ada yang direct ke dia), jadi dia bingung ntar yang ngerjain siapa kalo gue pindah.

Waktu itu gue cuma bilang "Pak kalo saya ga dikasi kerjaan, ya ngapain lagi saya di situ, mending saya bantuin orang lain yang butuh."

And VP responded "OK kalo gitu kamu tinggal dikasi kerjaan aja kan?"

Gue cuma jawab kira-kira, "Kind of that."

Kenapa gue jawab gitu? Ya emang core problem nya itu. Gue suka kerjaan di tim gue yang sekarang, itu doang yang bikin gue berat buat pindah. Tapi kalo atasan gue ga ngasih gue kerjaan ya gue ga akan kerja kerja.

Ini cerita nya udah disingkat-singkat tapi tetep panjang ya huft.

Pada saat gue memutuskan untuk pindah gue udah bermuhasabah untuk janji di step selanjutnya gue akan menjadi orang yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya, berusaha untuk jadi orang yang ga moody-an kalo kerja, ya pokonya kesalahan-kesalahan gue sebelumnya akan gue hindari sebaik mungkin. Gue ikhlas ga kerja di bagian yang gak gue suka lagi. Gue udah ngomong sama calon atasan baru gue dan dia uda punya plan kerjaan apa yang akan jadi kerjaan baru gue. Pokonya uda mulus semulus pant*t deboy.

But then. Ternyata ga semulus yang gue harapkan ketika VP incharge. Dia bener-bener uda cut every process and decided that gue ga akan bisa pindah. Dia brainstorm lagi gue dan atasan gue, flashback gimana awal bareng-bareng build tim kita. Waparah sih gue makin berat lagi, apalagi atasan gue, dia diem aja sama sekali ga menolak decision atasan nya. wth?! Padahal waktu sama gue dia jelas-jelas bilang gabisa kerja sama gue lagi. Sedangkan waktu itu kata-kata gue tetep sama,

Gue: "Atasan saya uda bilang dia gabisa lagi kerja sama saya, saya ga dikasi kerjaan apa-apa, ya ngapain saya ada disini lagi?"
VP: "(Nama atasan gue), kalo gitu kasi dia kerjaan, kerjaan yang dia suka."
Atasan gue: Senyum-senyum aja yekan. Ga ada nolak nolak nya...

Long story short, kita jadi ngobrol berdua lagi dan ngobrol banyak. Gue yang saat itu uda capek sama proses yang dipersulit dan uda dalam posisi pengen menjadi pribadi yang lebih baik lagi ngerasa yaudala whatever kalo gue ga boleh pindah yauda silahkan gue dikasi kerjaan yang bener. Gue bilang juga sama atasan gue,

"Kalo pun gue tetep disini, gue ngalah dari proses menyulitkan ini, gue akan anggep diri gue uda naik ke level selanjutnya karena gue berani untuk mengubah diri gue menjadi orang yang lebih baik lagi, so gue ga dalem kondisi expect apapun dari lo atau dari siapapun. Good job, May." Intinya gitu lah.

Selain dijanjiin naik gaji kalo ga pindah si (padahal mah asemele preketek).

And that's it. Gue ga jadi pindah. Gue jadi dikasi kerjaan yang lebih baik. Hubungan gue dan atasan baik-baik aja. Gue juga baik-baik aja enteng aja kerja sekarang. Well, gue bilang ke diri gue, "Good job, May. Lo berhasil naik level."

Dari ini gue belajar bahwa mengalah itu kadang baik, duluan minta maaf, duluan terima kasih, menunggu momen yang tepat (apalagi 2017 gue belajar sabar walopun masalah kerjaan masih ga sabaran), takes time sometimes :)


Tuesday, March 13, 2018

Accident in 2018

Bismillah...

Ppyong! Welcome back myself and anyone who reads (thanksss)!

Ternyata Oktober 2016 gue pernah buat tulisan tentang bagaimana orang-orang sebaiknya menyebrang, and guess what? Gue baru aja kecelakaan karena ada orang yang masih aja asal menyebrang and that was a 25's woman without proper safety with her cooler-than-me motorcycle and cross the road asal-asalan.

Dan days before that accident gue pernah ngetwit tentang orang-orang yang mobilnya dikeroyok karena tabrak lari (tapi lari nya ketangkep). Nah sebelum cerita banyak tentang kecelakaan gue, yang gue ceritakan sebagai pelajaran untuk diri gue sendiri dan mungkin yang baca, gue pengen cerita lebih panjang tentang gue twit tabrak lari.

I tweeted:


Kenapa gue bilang kaya gitu, karena someone responded that "dia lari karena dikejar massa". This if you ever had car/motor accident when you are the one who hit, I promised that people won't ever chasing you first if you stop your car/motor and help the one you hit.

Kenapa gue bilang gitu? Yes. Karena gue pernah jadi yang nabrak, pernah nabrak tapi ga salah, pernah jadi yang ditabrak tapi gue yang salah, dan pernah ditabrak walau gue ga salah. Bukan nya sombong ya tapi emang gitulah dan gue banyak belajar dari kecelakaan-kecelakaan itu. Dan banyak berdoa semoga kecelakaan itu bisa menjadi penghapus dosa-dosa gue yang uda segunung-gunung mungkin.

Ketika gue jadi yang nabrak dan salah, orang-orang ga pernah tuh ada yang kejar-kejar gue. Kenapa? Ya mana mungkin orang-orang kejar kita kalo kita ga lari duluan? (this actually a simple logic) Malahan dari apa yang pernah gue alami, people tend to help when they witnessed an accident.

Tentu saja saat gue nabrak ketakutan semua sekujur badan gue, pikiran macem-macem, mobil gue penyok, mobil orang penyok, dan gue mau meeting sama customer, bos nelponin nanyain gue dimana, dan after all the things I faced gue tetep dateng ke meeting itu. Why? Ya karena gue merasa gue harus bertanggung jawab.

Pertama gue turun dari mobil karena gue merasa bertanggung jawab udah nabrak, dan gue tetep ke customer karena gue uda janji mau meeting. Dan ga ada orang-orang yang ngejar gue padahal ada ketakutan dalam diri gue, malah orang-orang nyamperin dan bantuin bilang,

"Mba mending jangan dibahas disini, tuh ada polisi." Gue langsung paham orang itu bilang kaya gitu karena dia tau gue salah dan mencegah orang yang gue tabrak lapor polisi.

"Ada yang bisa dibantu?" Kata Pak Polisi, dan gue masi gemeteran tapi si Bapak berhati malaikat itu bilang.

"Ga ada Pak sudah diselesaikan secara kekeluargaan." I dont know where he came from but I believe God send him to help me. See? Ga ada orang-orang yang bikin lo ketakutan kalo lo nabrak, malah mereka akan bantu lo.

Setelah itu Bapak Polisi pergi, dan Bapak penolong itu juga pamit pergi, tersisa gue dan orang yang mobilnya penyok gue tabrak. Dan secara kekeluargaan gue pun bertanggung jawab walopun gue tekor, karena ya sejak pertama gue bisa mobil ya gue tanggung apapun resiko nya. Atas segala yang gue putuskan untuk gue lakukan, ya gue uda mikirin resiko nya apa dan sanggup engga gue tanggung. As simple as that.

Coba kalo gue bawa mobil pas gue masi sekolah bisa nya ngerepotin ortu gue doang kali jadi nya ganti rugi segala macem (karena gue belom kerja, belom punya duit sendiri, dan ga pandai jualan buat nyari duit). Hell no. Salah satu prinsip yang paling gue pegang teguh dalam hidup gue, adalah sebisa mungkin gue ga ngerepotin orang tua gue dalam hidup gue. Lulus tepat waktu, kuliah ga mahal-mahal, lulus langsung kerja, jadi anak baik (wkwk yang ini canda) adalah contoh-contoh nya. Karena gue tau dari gue kecil mungkin gue uda banyak ngerepotin mereka (hadeh jadi mellow).

Nah jadi gitu deh cerita kenapa gue ngetwit seperti itu. Wkwk panjang.

Untuk cerita kecelakaan gue, yah yang penasaran mungkin bisa baca thread gue Oktober 2016. Nah persis lah itu Mbak-mbak yang sepertinya sudah punya anak, tiba-tiba nyebrang pakai motor ngebut yang bahkan gue ga liat entah di jalur kanan ada mobil atau gue lagi liat spion, pokonya yang gue inget di depan mata gue udah ada itu Mbak-mbak dan gue lagi ngebut. Jadi duar blang blang, nabrak deh. (Di kecelakaan ini gue juga pakai motor)

Dan lagi, orang-orang membantu kita (gue dan si Mbak-mbak). Dan mereka bilang kalo gue ga salah, jadi gue semakin yakin kalo si Mbak-mbak nyebrang nya ngebut which is, again, the dangerous thing you do in main road. I believe I will see her earlier if she cross slowly.

Untuk cerita kelanjutannya ya skip aja lah ya intinya karena gue uda latihan ngomel tentang tanggung resiko di twitter ya itu juga lah yang gue sampaikan ke si Mbak.

Dah semua nya ini akan menjadi pelajaran buat gue. Penghapus dosa (Amin). Dan first thing first, mungkin gue harus super duper hati-hati lagi di jalan.

And again, please be responsible for everything that you brave to do ya guys. Think every possible risks if you are a newbie to do that things and decide whether you can be responsible to it or no. Do it if you think you can, and better don't do it if you can't. You will be much better in person, then. :)

Wednesday, December 27, 2017

It's Year End...

Bismillah...

Wah sudah akhir tahun saja. Tapi 2 postingan gue sebelum ini masi aja ya galau-galau haha.

Well, rencananya untuk akhir tahun ini gue pingin buat postingan tentang flashback 1 tahun terakhir. 2 tahun terakhir gue memang ga buat banyak resolusi berarti karena jujur 2016 adalah tahun terberat gue dan 2017 gue baik-baik aja gue sudah bersyukur. Karena itu 2016 gue berharap gue bisa bertahan hidup, dan 2017 gue bisa lebih bersabar. Banyak hal yang udah terjadi, tapi ga sedikit juga yang gue missed.

Gue pengen lebih jelas lagi di 2018 mungkin ga setinggi-tinggi nya mimpi, walopun kata Wirda Mansur mimpi yang realistis itu bukan mimpi tapi rencana, yaudah gapapa, gue mulai 2018 dengan ber-rencana saja, bukan bermimpi.

Gue mungkin melakukan banyak kesalahan di 2 tahun terakhir gue hidup, tapi gue bersyukur sebisa mungkin gue ga meninggalkan Tuhan dan selalu minta untuk dibantu bertaubat yang benar. Karena cuma dengan mengingat Tuhan gue merasa harus tetap hidup karena masi banyak dosa. Untuk itu tujuan gue hidup di 2018 adalah menjadi orang baik dan orang yang lebih baik lagi dari yang sebelumnya.

Flashback 2017, mungkin pencapaian gue ga banyak karena gue di tahun itu cuma pingin lebih sabar aja. Tapi karena gue highlight 2 tahun terakhir gue pengen flashback sedikit dulu tentang 2016.

Tahun 2016 gue totally broke. Gue salah rencana dan hancur secara finansial parah. Gue depresi ga tau kategori berat atau engga yang jelas di tahun tersebut baru kali itu gue ngerasain yang namanya ga bisa tidur nyenyak (padahal gue suka tidur), banyak nangis, dan pengen mati aja karena gue merasa sendiri dan ga bisa cerita ke keluarga gue. Malah mungkin ga ada yang tau tentang perjuangan gue selama 2016 itu haha.

Banyak media yang gue pakai untuk ngeluarin uneg-uneg yang gue rasain, salah satu nya blog ini dan saat itu ask.fm yang gue buat khusus untuk terapi diri gue sendiri.

I even wrote thing like this. Becoz it helps. A lot.

Tapi saat itu gue bersyukur bahwa gue ga salah langkah dengan pindah bagian dari Sales (yang kerja nya di luar terus) jadi Sales Planning (ngubek-ngubek data di depan lcd). Saat itu langkah tersebut yang membantu gue untuk tetap lanjut hidup. Berkarya di tim yang juga baru di-build saat gue join pun membuat gue berarti sebagai manusia. Menghasilkan sesuatu di situ dan bermanfaat buat banyak orang menjadi syukur buat gue. Sekali lagi karena tujuan gue di 2016 adalah bertahan hidup, gue jadi merasa terbantu saat itu dengan pekerjaan gue yang baru dan akhirnya tiba lah 2017.

Tahun 2017 gue pingin lebih bersabar karena saat itu gue lagi benerin finansial gue yang hancur. Pencapaian-pencapaian 2017 yang harus gue syukuri antara lain:

  • Gue berhasil berdamai dengan diri sendiri secara penuh. Memang waktunya lama tapi gapapa, you are doing a good job, May. Be better next year!
  • Finansial gue udah jauh lebih baik selama 1 tahun ini, bener-bener gue track duit gue setiap bulan dan gue juga nabung lewat investasi dikit-dikit yang penting ada hasilnya, lagi, sabar ga bisa langsung banyak
  • Selain investasi dikit-dikit gue juga mengasuransikan diri gue, jadi gue ngerasa ga akan ngerepotin siapa-siapa kalo gue kenapa-kenapa dan kalo-kalo gue 'pergi' terlalu cepat
  • Di bidang kerjaan Alhamdulillah gue naik gaji dan kerjaan gue baik-baik aja sampai... sampai nanti gue ceritain deh. Yang penting gue tahun ini bisa menghasilkan sesuatu yang bisa gue jadikan legacy di sini
  • Gue jalan-jalan ke banyak tempat. Emang sih lagi benerin finansial tapi travelling itu membantu banget #selfhealing gue
Tetep ada yang missed di 2017, seperti:
  • Kurang banyak nabung nya karena masi tetep ada aja jajan-jajan ini itu
  • Masih banyak bandel nya hehehe hehehe
  • Setengah tahun terakhir gue ga bisa kerja dengan maksimal dari pada gue makin membenci diri gue sendiri jadi gue ngajuin pindah bagian sebagai salah satu resolusi gue juga di 2018. Gue pengen di tahun depan kesalahan-kesalahan gue di 2017 ga gue lakukan lagi
Yah kurang lebih gitu lah. Lagi susun rencana 2018 gue supaya lebih baik lagi gue menjalani setahun ke depan. Ga perlu strict yang penting keep on track aja.

Kadang penyesalan-penyesalan yang membuat hidup gue berat, jadi gue selalu ganti dengan bersyukur. Bersyukur lagi, bersyukur terus. Nda perlu lihat kanan-kiri sudah sampai mana. Bertahap, bersabar, enjoy. Bismillah ya 2018!



Monday, September 25, 2017

If Only

Bismillah...

If only we are possible. We can build an artistic family. Me with my sketchbook and you with your fav instrument. Our childern with whatever things they want.

If only we are possible. We will have an artistic scene at our backyard. You play the instrument while I draw things on my sketchbook. We are humming the song together.

You play a simple yet nice melody and look at me. I look at you and we both smilling.

I imagine too far, didn't I?

I still can not imagine if you will be someone else for me in the future. Im afraid that I actually trapped. Im afraid I can not let it go like I want to. Im afraid to be broken again.

If only we are possible. I wont ask for anything else in this world. You are enough for me. More than enough.

Thursday, August 17, 2017

Cita-cita

Bismillah...

Aku pernah bercita-cita bahwa agama di dunia ini hanya satu saja.
Bercita-cita bahwa kita adalah mungkin.
Bercita-cita bahwa tidak ada spasi besar di antara kita.
Bercita-cita kebahagiaan kita tidak semu.
Bercita-cita genggaman kita tidak sementara.
Bercita-cita kita adalah sepasang jodoh yang dituliskan Tuhan.

Sayangnya cita-cita kadang tidak kesampaian. Kalau begitu aku buat lebih mudah saja cita-citaku.

Aku bercita-cita untuk bisa ikhlas lebih mudah.
Bercita-cita untuk bisa ambil pelajaran dari pertemuan kita.
Bercita-cita untuk bisa menikmati hidup dengan hanya bisa menjadi penonton kamu.

Bahagia selalu ya, Kawanku. Semoga cita-citamu kesampaian. :)

Saturday, January 21, 2017

Workmate Daily: Realistis?

Bismillah...

Udah hampir 1 tahun gue kerja bareng Masdip dan Masdon di Sales Planning. Gatau kenapa kita klop banget dan gue jadi ngerasa kaya punya 2 orang kakak laki2. Karena Masdon duduk di kubikel Manager. Gue lebih sering ngobrol sama Masdip (secara duduknya sebelahan cuy).

Jadi, gue sama Masdip kalo capek kerja pasti gangguin satu sama lain. Entah ngobrol, entah ngapain aja. Suatu hari gue cerita duluan.

👧: Gue buat list realistic things to be done in 2017
👦: Realistis? Mimpi itu setinggi2nya, May. Jadi kalo nyerempet doang ya minimal tetep tinggi. Misal lu mau liburan ke luar negri. Ya udah tulis ke New Zealand atau kemana deh yang jauh. Jadi kalo ternyata duitnya cuma cukup buat ke Singapur. Ya lumayan kan.
👧: Ini jadi kaya nge-set target realistis sama optimistis sih...
👦: Kind of.

Gue suka banget ngobrol sama dia. Entah karena dia lebih tua dan lebih mature dari gue. Jadi kata2nya kadang banyak benernya dan somehow inspiring. Sedikit-banyak obrolan2 yang nempel aja gitu di otak gue.

Petikan obrolan ini sengaja gue tulis biar makin nempel di otak. And im gonna do this again if possible. Kapan2 gue ceritain kaya gimana mereka berdua orangnya. Hihu.

Wednesday, October 12, 2016

Waspada!

Bismillah...

Hi Good morning! Another post after long hiatus and depressed post. Hari ini gue gak bakal bahas yang aneh-aneh lagi.

Long short story, mid of September and early October menjadi puncak healing time gue. Dalam empat weekend berturut-turut gue benar-benar tidak memberi ruang untuk diri gue berdiam diri di rumah (sampe gue drop karena badan gue emang kurang suitable sama semangat gue). Di mulai dari tanggal 17 September dengan pemikiran yang rada galau tapi akhirnya gue tetap iya-kan ke Pulau Pramuka. Lanjut 24 September itu gue ke Madiun-Magetan dan di akhir September gue ke Konser Indie gitu meng-iya-kan ajakan random temen gue. Lalu first weekend of October gue ketemu temen lama gue dan kita ngobrol banyak hal. Tapi dari semua itu ga ada yang gue sesali. Gue justru sangat bersyukur karena gue merasa mendapatkan sesuatu, yah istilahnya gue kembali menerima diri gue sendiri. Mengalahkan diri gue yang lain yang destructive itu. Sepertinya masalah nya selama ini saat gue merasa terpuruk yang gue lakukan adalah menyendiri, sendirian, dan di situ-situ aja. Padahal kalo gue jalan keluar, melakukan banyak hal, jalan sama temen yang asik. Perspektif kita jadi bertambah dan kita bisa lihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. In the end, gue menjadi tidak menyesali apapun itu dan bersyukur. Alhamdulillah.

Secara klise bisa dikatakan kalau gue selama ini kurang mendekatkan diri sama Allah. Dan mungkin sebenernya gue rindu dan sangat ingin kembali dekat. Tapi masalah agama yang ghaib itu gue sangat lemah sehingga gue butuh tools untuk menuju kesitu dan ternyata caranya adalah dengan banyak melakukan hal positif. Gitu deh.

---

Nah pada post ini sebenernya gue mau membahas dan mempertanyakan 'Bagaimana ya cara mengedukasi ibu-ibu pengendara motor untuk tidak membiasakan menyebrang lurus dengan sekali gas.'

Selain angkot, bus, dan taksi, gue sangat mewaspadai pengendara wanita terutama ibu-ibu dan dedek-dedek gemes. Walaupun gue juga wanita yang mungkin juga diwaspadai oleh pengendara lain, tapi memang seperti itu adanya. Oya dan bapak-bapak gembul yang suka jalan pelan di tengah, rasanya pengen gue hantem pake klakson truk tronton supaya cepetan minggir. Jalan pelan-pelan di tengah (atau lajur kanan) itu menurut gue sama berbahaya nya dengan jalan ngebut di lajur kiri (atau bahu jalan).

Yang paling sering gue alami di jalan adalah rem mendadak di lajur kiri. Which is super berbahaya. Tau kan jalanan suka macet dan kadang pengendara motor memanfaatkan celah lajur kiri? Nah sering banget gue harus ikutan rem mendadak kalo di depan ada yang rem mendadak karena ada ibu-ibu pengendara motor tiba2 nyebrang.

Nyokap gue sendiri pernah kecelakaan cukup parah karena dia nyebrang lurus sekali gas, dan di lajur kiri ada motor yang ngebut ketutup angkot. Gue ga berani deh inget-inget lagi.

Technically kenapa gue bilang nyebrang lurus bagi motor itu berbahaya, karena nyebrang lurus itu kita menyebrangi dua jalan. Dua jalur. Beda dengan kalo kita mau nyebrang dari jalan, misal dari jalur kiri mau ke gang di sebelah kanan, kita hanya perlu menyebrangi satu jalur dan bisa berhenti lurus di tengah dulu, sampai sepi atau sampai ada yang ngasih kita lewat. Otomatis nyebrang lurus kita harus nyebrang dua jalur dan itu technically sama dengan dua kali nyebrang.

Lalu sama dengan menyebrang dengan berjalan kaki itu lebih safe ketimbang lari, itu sama banget dengan nyebrang lurus pake motor pelan-pelan dibanding sekali gas. Karena pengendara motor di lajur kiri itu yang perlu diwaspadai lebih, yang juga seharusnya waspada kalo ada mobil yang tiba-tiba berhenti di lajur kanan kemungkinan besar ada yang nyebrang. Jadi, sebaiknya nyebrang lurus pakai motor dilakukan pelan-pelan saja. Seperti jalan kaki. Tapi gue ga paham gimana cara mengedukasi ibu-ibu (yang kebanyakan) seperti ini. Gue banyak banget deh menemukan dan most of them itu ibu-ibu. Menurut hipotesa gue, ceelah, mereka cenderung sekali gas karena merasa susah untuk berhenti atau pelan-pelan di tengah. Karena motor nya jadi kaya ngalangin jalan kali ya, padahal engga kaya gitu. Pengendara yang berhenti untuk ngasih jalan engga akan nabrak kita kalau sudah berhenti. Jadi pelan-pelan saja.

Yah menurut gue, cara aman berkendara di jalanan Indonesia adalah dengan berkendara lebih waspada dan menghormati satu sama lain. Hehe.

Sunday, July 31, 2016

The Other Me

Bismillah...

Nowadays people keep asking 'kenapa sih lu, May?'. Unfortunately, I'm changing into a person I don't know either. Everytime I try to get to myself back, I get lost. Sometimes everythings feel so fine, and the next moment I am lost again.

I am trying hard to keep my mind straight. But everytime I push myself to that point, the rest are in pain. My heart, my soul, my body. When I feel I can't keep up with those pains, I loose. And the other me wins.

And then people will ask, 'kenapa sih lu, May?'.

The reasons are a lot. Those ups and downs, and the feeling of can't share those I feel, with my family. The burden of being all alone. The feeling of turn off life.

That's the other me.

I cant be with her. I wish her gone. She's destructive.