Saturday, January 21, 2017

Workmate Daily: Realistis?

Bismillah...

Udah hampir 1 tahun gue kerja bareng Masdip dan Masdon di Sales Planning. Gatau kenapa kita klop banget dan gue jadi ngerasa kaya punya 2 orang kakak laki2. Karena Masdon duduk di kubikel Manager. Gue lebih sering ngobrol sama Masdip (secara duduknya sebelahan cuy).

Jadi, gue sama Masdip kalo capek kerja pasti gangguin satu sama lain. Entah ngobrol, entah ngapain aja. Suatu hari gue cerita duluan.

👧: Gue buat list realistic things to be done in 2017
👦: Realistis? Mimpi itu setinggi2nya, May. Jadi kalo nyerempet doang ya minimal tetep tinggi. Misal lu mau liburan ke luar negri. Ya udah tulis ke New Zealand atau kemana deh yang jauh. Jadi kalo ternyata duitnya cuma cukup buat ke Singapur. Ya lumayan kan.
👧: Ini jadi kaya nge-set target realistis sama optimistis sih...
👦: Kind of.

Gue suka banget ngobrol sama dia. Entah karena dia lebih tua dan lebih mature dari gue. Jadi kata2nya kadang banyak benernya dan somehow inspiring. Sedikit-banyak obrolan2 yang nempel aja gitu di otak gue.

Petikan obrolan ini sengaja gue tulis biar makin nempel di otak. And im gonna do this again if possible. Kapan2 gue ceritain kaya gimana mereka berdua orangnya. Hihu.

Wednesday, October 12, 2016

Waspada!

Bismillah...

Hi Good morning! Another post after long hiatus and depressed post. Hari ini gue gak bakal bahas yang aneh-aneh lagi.

Long short story, mid of September and early October menjadi puncak healing time gue. Dalam empat weekend berturut-turut gue benar-benar tidak memberi ruang untuk diri gue berdiam diri di rumah (sampe gue drop karena badan gue emang kurang suitable sama semangat gue). Di mulai dari tanggal 17 September dengan pemikiran yang rada galau tapi akhirnya gue tetap iya-kan ke Pulau Pramuka. Lanjut 24 September itu gue ke Madiun-Magetan dan di akhir September gue ke Konser Indie gitu meng-iya-kan ajakan random temen gue. Lalu first weekend of October gue ketemu temen lama gue dan kita ngobrol banyak hal. Tapi dari semua itu ga ada yang gue sesali. Gue justru sangat bersyukur karena gue merasa mendapatkan sesuatu, yah istilahnya gue kembali menerima diri gue sendiri. Mengalahkan diri gue yang lain yang destructive itu. Sepertinya masalah nya selama ini saat gue merasa terpuruk yang gue lakukan adalah menyendiri, sendirian, dan di situ-situ aja. Padahal kalo gue jalan keluar, melakukan banyak hal, jalan sama temen yang asik. Perspektif kita jadi bertambah dan kita bisa lihat sesuatu dari sudut pandang berbeda. In the end, gue menjadi tidak menyesali apapun itu dan bersyukur. Alhamdulillah.

Secara klise bisa dikatakan kalau gue selama ini kurang mendekatkan diri sama Allah. Dan mungkin sebenernya gue rindu dan sangat ingin kembali dekat. Tapi masalah agama yang ghaib itu gue sangat lemah sehingga gue butuh tools untuk menuju kesitu dan ternyata caranya adalah dengan banyak melakukan hal positif. Gitu deh.

---

Nah pada post ini sebenernya gue mau membahas dan mempertanyakan 'Bagaimana ya cara mengedukasi ibu-ibu pengendara motor untuk tidak membiasakan menyebrang lurus dengan sekali gas.'

Selain angkot, bus, dan taksi, gue sangat mewaspadai pengendara wanita terutama ibu-ibu dan dedek-dedek gemes. Walaupun gue juga wanita yang mungkin juga diwaspadai oleh pengendara lain, tapi memang seperti itu adanya. Oya dan bapak-bapak gembul yang suka jalan pelan di tengah, rasanya pengen gue hantem pake klakson truk tronton supaya cepetan minggir. Jalan pelan-pelan di tengah (atau lajur kanan) itu menurut gue sama berbahaya nya dengan jalan ngebut di lajur kiri (atau bahu jalan).

Yang paling sering gue alami di jalan adalah rem mendadak di lajur kiri. Which is super berbahaya. Tau kan jalanan suka macet dan kadang pengendara motor memanfaatkan celah lajur kiri? Nah sering banget gue harus ikutan rem mendadak kalo di depan ada yang rem mendadak karena ada ibu-ibu pengendara motor tiba2 nyebrang.

Nyokap gue sendiri pernah kecelakaan cukup parah karena dia nyebrang lurus sekali gas, dan di lajur kiri ada motor yang ngebut ketutup angkot. Gue ga berani deh inget-inget lagi.

Technically kenapa gue bilang nyebrang lurus bagi motor itu berbahaya, karena nyebrang lurus itu kita menyebrangi dua jalan. Dua jalur. Beda dengan kalo kita mau nyebrang dari jalan, misal dari jalur kiri mau ke gang di sebelah kanan, kita hanya perlu menyebrangi satu jalur dan bisa berhenti lurus di tengah dulu, sampai sepi atau sampai ada yang ngasih kita lewat. Otomatis nyebrang lurus kita harus nyebrang dua jalur dan itu technically sama dengan dua kali nyebrang.

Lalu sama dengan menyebrang dengan berjalan kaki itu lebih safe ketimbang lari, itu sama banget dengan nyebrang lurus pake motor pelan-pelan dibanding sekali gas. Karena pengendara motor di lajur kiri itu yang perlu diwaspadai lebih, yang juga seharusnya waspada kalo ada mobil yang tiba-tiba berhenti di lajur kanan kemungkinan besar ada yang nyebrang. Jadi, sebaiknya nyebrang lurus pakai motor dilakukan pelan-pelan saja. Seperti jalan kaki. Tapi gue ga paham gimana cara mengedukasi ibu-ibu (yang kebanyakan) seperti ini. Gue banyak banget deh menemukan dan most of them itu ibu-ibu. Menurut hipotesa gue, ceelah, mereka cenderung sekali gas karena merasa susah untuk berhenti atau pelan-pelan di tengah. Karena motor nya jadi kaya ngalangin jalan kali ya, padahal engga kaya gitu. Pengendara yang berhenti untuk ngasih jalan engga akan nabrak kita kalau sudah berhenti. Jadi pelan-pelan saja.

Yah menurut gue, cara aman berkendara di jalanan Indonesia adalah dengan berkendara lebih waspada dan menghormati satu sama lain. Hehe.

Sunday, July 31, 2016

The Other Me

Bismillah...

Nowadays people keep asking 'kenapa sih lu, May?'. Unfortunately, I'm changing into a person I don't know either. Everytime I try to get to myself back, I get lost. Sometimes everythings feel so fine, and the next moment I am lost again.

I am trying hard to keep my mind straight. But everytime I push myself to that point, the rest are in pain. My heart, my soul, my body. When I feel I can't keep up with those pains, I loose. And the other me wins.

And then people will ask, 'kenapa sih lu, May?'.

The reasons are a lot. Those ups and downs, and the feeling of can't share those I feel, with my family. The burden of being all alone. The feeling of turn off life.

That's the other me.

I cant be with her. I wish her gone. She's destructive.

Tuesday, July 26, 2016

Been A While, Buddy!

Bismillah...

Hi Buddy! How are you? I saw our latest posts was sooo desperate, rite? Thats true. The end of 2015 and early 2016 are my hardest part of my life. The moment I fought with my own self. The moment I try hard to be survived. The moment I try to believe in myself more.

And now, I thought everythings getting better. I feel more grateful and doing better. Try to sum up activities and choose things to select them as my happiness that I need to be grateful for, everyday. In that way, I will value myself more than before.

I spam a lot in my social media accounts but why bother much? Those are social media anyway. To socializing with each other rite? Not to always be silent reader everyday and night.

I start to meet my life tempo back. I try to keep up with that. Wish everythings getting much much better, ya May! Aamiin.

Friday, February 5, 2016

Aku yang Salah

Pada akhirnya semua nya pergi.

Orang-orang yang pernah kubukakan pintu.

Mereka tidak pernah tahu.

Sulitnya melihat orang yang dikasihi pergi menjauh membelakangi kita.

Mereka tidak pernah tahu.

Sulitnya menutup pintu karena berharap suatu saat dia akan kembali.

Mereka tidak pernah tahu.

Sulitnya menahan untuk membuka pintu setiap terdengar ketukan dari luar.

Mereka tidak pernah tahu.

Sulitnya mengintip sejenak dan memberanikan diri untuk membuka kembali pintu itu.

Pada akhirnya, aku yang tidak pernah sadar.

Untuk tidak terlalu terburu-buru dengan waktu.

Pada akhirnya aku, yang selalu salah.

Aku yang salah.